Tertipu oleh “Ketampanan” Si Bule Lewat Internet, Uang Ludes!

Ini bukan cerita belaka! Ini adalah kejadian yang sebenarnya, karena hal ini dilaporkan oleh korbannya ke kantor kepolisian, bahkan selama kurun waktu satu bulan ada 2 (dua) laporan polisi yang kejadiannya persis sama namun korbannya berbeda, jadi hati-hati agar diingatkan kepada sanak family kita khususnya para wanita agar tidak dengan mudah “tertipu” janji-janji dan ketampanan si Bule.

Laporannya seperti ini:

Seorang perempuan sebut saja bernama “Bunga”, warga negara Indonesia, yang mempunyai latar belakang pendidikan S2, fasih berbahasa Inggris, umur sekitar 30 tahunan pada pertengahan tahun 2010 berkenalan melalui internet chating dengan seorang warga Negara Inggris (katanya) sebut saja namanya “Bule”, tidak dijelaskan dalam laporannya apakah saat kenalan sempat kontak juga via webcam video chat, tapi singkat cerita karena saking akrabnya lama kelamaan ngobrol permasalahan pribadi termasuk masalah rumah tangga si Bule dan bisnisnya di Inggris yang akan diinvestasikan di Indonesia.  Hari terus berganti, jalinan komunikasi baik via chating maupun email antara Bunga dan Bule terus berjalan secara intens.

Selang beberapa bulan kemudian si Bule menyatakan bahwa ingin menceraikan istrinya di London dan akan menikahi si Bunga!  Dan ternyata cinta tidak bertepuk sebelah tangan, hanya via internet mereka berdua sepakat untuk membangun rumah tangga, dengan syarat si Bule segera datang ke Jakarta, dan merealisasikan janji-janjinya untuk menikahi Bunga serta membuka bisnis  di Jakarta dengan modal yang akan dibawa dari London!  Wooooow!!!

Tibalah waktu yang dijanjikan, sebagaimana copy/fax ticket pesawat yang dikirimkan si Bule kepada Bunga berangkatlah si Bule ke Jakarta dari London.  Hari itu tentunya akan mejadi hari yang indah bagi Bunga, karena akan menjadi pertemuan pertama dengan “calon suami” yang seorang bule. Sehingga pastilah dengan berdandan secantik mungkin Bunga menjemput di Bandara Soekarno Hatta – Jakarta.  Setelah lebih dari 3 jam Bunga menunggu si Bule di bandara, tiba-tiba Bunga mendapat telepon dari “nomor asing” dimana yang berbicara adalah seorang wanita dengan logat Melayu.  Si wanita penelepon tersebut menjelaskan kepada Bunga bahwa, dia adalah petugas Custom (semacam Bea Cukai) di Malaysia dan memberitahukan bahwa “calon suami” Bunga (si Bule) saat ini sedang ditahan di Bandara KL karena si Bule didapati oleh petugas custom tersebut membawa “sangat banyak” perhiasan dan uang tunai lebih dari US$ 300,000 (Tigaratus ribu dollar AS).  Jumlah uang yang sangat banyak dan  tidak diperbolehkan dibawa secara tunai oleh penumpang pesawat.

Si Bunga selanjutnya ingin berbicara kepada si Bule yang sedang ditahan, tetapi menurut si custom hal itu tidak bisa dilakukan tanpa ijin dari atasannya.  Dia hanya bertugas memberitahukan saja kepada contact person yang bisa dihubungi yang menurut si Bule adalah Bunga sebagai “calon istri”.  Akhirnya dengan bermohon-mohon, si Bunga bisa bicara via telepon dengan “atasan si custom” yang seorang laki-laki dengan logat Melayu juga.  Dan selanjutnya “atasan si custom” tersebut meneruskan komunikasi Bunga via telepon tersebut kepada si Bule.  Dalam pembicaraan itu, si Bule memohon kepada Bunga agar bisa membebaskannya dari tahanan custom Malaysia dengan cara apapun karena jangan sampai hanya karena hal itu sehingga membatalkan rencana pernikahan mereka.   Untuk itu si Bule meminta kepada Bunga untuk membujuk “atasan si custom” agar bersedia membebaskannya.

Akhirnya Bunga via telepon meminta kepada “atasan custom” untuk bisa membebaskan “calon suaminya” tersebut dari tahanan custom Malaysia.  “Atasan custom” tersebut berjanji bisa membantu membebaskan si Bule dengan syarat, Bunga harus menebusnya dengan mentransfer uang sejumlah US$15,000 (Limabelas ribu Dollar AS) atau setara dengan Rp. 132.000.000,- (Seratus tigapuluh dua juta rupiah).

Tidak berpikir panjang, mungkin karena saking cintanya kepada si Bule ibarat “tai berasa coklat”, dengan bayangan segera ketemu dengan “calon suami” yang orang bule, dilamar, menikah, kemudian membuka bisnis di Jakarta maka si Bunga mengirimkan uang tabungannya melalui jasa pengiriman uang ke sebuah nomor rekening sebagaimana yang diminta oleh “atasan custom” tersebut.  Setelah terkirim, selanjutnya Bunga konfirmasi kepada “atasan custom” tersebut bahwa Bunga telah mengirimkan sejumlah uang sebagaimana yang disyaratkan dan meminta segera membebaskan si Bule.

Namun apa yang selanjutnya terjadi?  Kontak via telepon, email dan chating dengan si Bule saat “ditahan” oleh custom itu adalah kali yang terakhir Bunga bisa menghubungi si Bule, selanjutnya si Bule hilang bak tertelan bumi entah kemana.   Oh, Bunga…Bunga, nasibmu sebagai perempuan Indonesia yang terpelajar, “melek tekhnologi” akan tetapi matamu tertutup oleh sosok Bule. Hmmmmm…….

About A Kurniawan

I was a cop who wants to write about all the things about the police all over the world
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s