Download Perkap Nomor 14 tahun 2012 tentang Manajemen Penyidikan Tindak Pidana

Silahkan klik link download  disini

| Leave a comment

Tertipu oleh “Ketampanan” Si Bule Lewat Internet, Uang Ludes!

Ini bukan cerita belaka! Ini adalah kejadian yang sebenarnya, karena hal ini dilaporkan oleh korbannya ke kantor kepolisian, bahkan selama kurun waktu satu bulan ada 2 (dua) laporan polisi yang kejadiannya persis sama namun korbannya berbeda, jadi hati-hati agar diingatkan kepada sanak family kita khususnya para wanita agar tidak dengan mudah “tertipu” janji-janji dan ketampanan si Bule.

Laporannya seperti ini:

Seorang perempuan sebut saja bernama “Bunga”, warga negara Indonesia, yang mempunyai latar belakang pendidikan S2, fasih berbahasa Inggris, umur sekitar 30 tahunan pada pertengahan tahun 2010 berkenalan melalui internet chating dengan seorang warga Negara Inggris (katanya) sebut saja namanya “Bule”, tidak dijelaskan dalam laporannya apakah saat kenalan sempat kontak juga via webcam video chat, tapi singkat cerita karena saking akrabnya lama kelamaan ngobrol permasalahan pribadi termasuk masalah rumah tangga si Bule dan bisnisnya di Inggris yang akan diinvestasikan di Indonesia.  Hari terus berganti, jalinan komunikasi baik via chating maupun email antara Bunga dan Bule terus berjalan secara intens.

Selang beberapa bulan kemudian si Bule menyatakan bahwa ingin menceraikan istrinya di London dan akan menikahi si Bunga!  Dan ternyata cinta tidak bertepuk sebelah tangan, hanya via internet mereka berdua sepakat untuk membangun rumah tangga, dengan syarat si Bule segera datang ke Jakarta, dan merealisasikan janji-janjinya untuk menikahi Bunga serta membuka bisnis  di Jakarta dengan modal yang akan dibawa dari London!  Wooooow!!!

Tibalah waktu yang dijanjikan, sebagaimana copy/fax ticket pesawat yang dikirimkan si Bule kepada Bunga berangkatlah si Bule ke Jakarta dari London.  Hari itu tentunya akan mejadi hari yang indah bagi Bunga, karena akan menjadi pertemuan pertama dengan “calon suami” yang seorang bule. Sehingga pastilah dengan berdandan secantik mungkin Bunga menjemput di Bandara Soekarno Hatta – Jakarta.  Setelah lebih dari 3 jam Bunga menunggu si Bule di bandara, tiba-tiba Bunga mendapat telepon dari “nomor asing” dimana yang berbicara adalah seorang wanita dengan logat Melayu.  Si wanita penelepon tersebut menjelaskan kepada Bunga bahwa, dia adalah petugas Custom (semacam Bea Cukai) di Malaysia dan memberitahukan bahwa “calon suami” Bunga (si Bule) saat ini sedang ditahan di Bandara KL karena si Bule didapati oleh petugas custom tersebut membawa “sangat banyak” perhiasan dan uang tunai lebih dari US$ 300,000 (Tigaratus ribu dollar AS).  Jumlah uang yang sangat banyak dan  tidak diperbolehkan dibawa secara tunai oleh penumpang pesawat.

Si Bunga selanjutnya ingin berbicara kepada si Bule yang sedang ditahan, tetapi menurut si custom hal itu tidak bisa dilakukan tanpa ijin dari atasannya.  Dia hanya bertugas memberitahukan saja kepada contact person yang bisa dihubungi yang menurut si Bule adalah Bunga sebagai “calon istri”.  Akhirnya dengan bermohon-mohon, si Bunga bisa bicara via telepon dengan “atasan si custom” yang seorang laki-laki dengan logat Melayu juga.  Dan selanjutnya “atasan si custom” tersebut meneruskan komunikasi Bunga via telepon tersebut kepada si Bule.  Dalam pembicaraan itu, si Bule memohon kepada Bunga agar bisa membebaskannya dari tahanan custom Malaysia dengan cara apapun karena jangan sampai hanya karena hal itu sehingga membatalkan rencana pernikahan mereka.   Untuk itu si Bule meminta kepada Bunga untuk membujuk “atasan si custom” agar bersedia membebaskannya.

Akhirnya Bunga via telepon meminta kepada “atasan custom” untuk bisa membebaskan “calon suaminya” tersebut dari tahanan custom Malaysia.  “Atasan custom” tersebut berjanji bisa membantu membebaskan si Bule dengan syarat, Bunga harus menebusnya dengan mentransfer uang sejumlah US$15,000 (Limabelas ribu Dollar AS) atau setara dengan Rp. 132.000.000,- (Seratus tigapuluh dua juta rupiah).

Tidak berpikir panjang, mungkin karena saking cintanya kepada si Bule ibarat “tai berasa coklat”, dengan bayangan segera ketemu dengan “calon suami” yang orang bule, dilamar, menikah, kemudian membuka bisnis di Jakarta maka si Bunga mengirimkan uang tabungannya melalui jasa pengiriman uang ke sebuah nomor rekening sebagaimana yang diminta oleh “atasan custom” tersebut.  Setelah terkirim, selanjutnya Bunga konfirmasi kepada “atasan custom” tersebut bahwa Bunga telah mengirimkan sejumlah uang sebagaimana yang disyaratkan dan meminta segera membebaskan si Bule.

Namun apa yang selanjutnya terjadi?  Kontak via telepon, email dan chating dengan si Bule saat “ditahan” oleh custom itu adalah kali yang terakhir Bunga bisa menghubungi si Bule, selanjutnya si Bule hilang bak tertelan bumi entah kemana.   Oh, Bunga…Bunga, nasibmu sebagai perempuan Indonesia yang terpelajar, “melek tekhnologi” akan tetapi matamu tertutup oleh sosok Bule. Hmmmmm…….

| Leave a comment

Top 50 Manchester United Goals from the Past 10 Years

Vodpod videos no longer available.

| Leave a comment

Menjawab pameo “melapor hilang kambing malah hilang sapi”.

Arti kata “pameo”
Dari pencarian arti kata “pameo” di Google, saya mendapatkan beberapa terjemahan dalam beberapa bahasa, yaitu  antara lain allusion, sindiran dan slogan.  Dari sedikit pengertian tentang pameo tersebut, maka kalimat “melapor hilang kambing, malah hilang sapi” adalah sebuah kalimat yang bukan bermakna sebagaimana adanya, melainkan sindiran yang telah menjadi slogan dalam kehidupan bermasyarakat di negara ini.   Siapa yang disindir?  Tentu saja orang atau suatu organisasi yang “dilapori” atau menjadi tempat melapor, siapa lagi kalau bukan Polisi?  Apa sebenarnya arti dari sindiran itu?   Secara umum sebagaimana pengertian masyarakat kebanyakan, kurang lebih kalimat itu mempunyai makna bahwa bila seseorang telah menjadi salah satu korban kejahatan dengan nilai kehilangan kecil maka saat melapor atau setelah melapor di kepolisian, akan mengalami kerugian yang lebih besar dibandingkan nilai yang dilaporkan.
Benarkah pameo tersebut? Pameo itu mungkin dulu benar-benar terjadi, tetapi bagaimana dengan kondisi sekarang?  Melalui ilustrasi peristiwa di bawah ini, sedikit banyak akan dapat menjawab masihkan pameo itu relevan dengan situasi saat ini.
Ilustrasi :
Pada suatu hari, ada seorang lelaki bernama A datang ke Polsek “X” untuk melaporkan peristiwa yang dialaminya, yaitu ; pada malam sebelumnya telah kecurian 1 (satu) unit sepeda motor di rumahnya yang baru dia cicil dari dealer 2 bulan berjalan dengan DP sekitar Rp. 700.000,- (Tujuh ratus ribu rupiah).   Setelah sedikit bercerita di ruang penjagaan Polsek, selanjutnya si A dimintai keterangan untuk dibuatkan Laporan Polisi (LP), beruntung petugas yang menerima laporan saat itu “X10”  tidak memintai “uang kertas” kepada si A karena kebetulan Kapolseknya “X1” sudah menyerahkan dana ATK (alat tulis kantor) beberapa hari sebelumnya, sehingga si A dapat dibuatkan Laporan Polisi berikut Berita Acara Pemeriksaan (BAP)  nya.  Walaupun begitu, karena kebetulan hari itu Minggu, Kapolsek X1 tidak berada di kantor sehingga pengawasan agak kurang, sebelum menyuruh pulang si A, anggota X10 ternyata  masih sempat meminta “uang ngetik” dari si A buat mengganti rokok yang dihisapnya selama membuat laporan, dan karena kebetulan di dompet si A tidak ada uang pas untuk membeli sebungkus rokok maka oleh si A diberilah X10 uang sejumlah Rp. 50.000,-  (lima puluh ribu rupiah).
Selang 2 dua hari berikutnya, si A datang ke kantor Polsek dengan maksud yang pertama untuk menanyakan proses laporan polisinya dan yang kedua untuk mengurus asuransi, karena sepeda motor yang dibelinya dengan cara kredit mendapat “fasilitas” asuransi dari lembaga pembiayaan.    Di polsek, si A ingin mendapatkan segala surat menyurat yang berkaitan dengan proses asuransinya, dan karena berkas kasusnya sudah didisposisi oleh Kapolsek X1 untuk diproses oleh Unit Reskrim maka si A harus menemui Kanit Res X3.   Setelah bertemu Kanit Res X3, si A diarahkan kepada penyidik kasusnya yaitu X7.  Setelah menyatakan kehendaknya kepada X7, ternyata dia dimintai uang oleh X7 sebagai “biaya pengurusan asuransi” sebesar Rp. 150.000,- (seratus limapuluh ribu rupiah).  Pikir si A, dari pada dia tidak dapat “asuransi” dan masih tetap harus membayar cicilan tiap bulan, mendingan dia keluarkan uang sejumlah itu untuk X7, dan selesailah semua surat-menyurat itu.
Beberapa minggu berselang, suatu hari si A ditelepon oleh X7 bahwa hasil penyelidikan tentang kasus curanmor itu ada hasilnya sehingga si A diminta untuk datang ke Polsek.   Di polsek, setelah diberitahu oleh X7 tentang keberadaan motornya yang menurut informasi berada di wilayah Kabupaten lain selanjutnya si A kembali dimintai “ongkos jalan” untuk mengambil sepeda motornya sejumlah Rp. 500.000,-  (lima ratus ribu rupiah) karena yang berangkat 3 sampai 4 anggota Polsek dan sekaligus untuk biaya “angkut” sepeda motor.   Pusing juga si A memikirkan cara untuk mendapatkan uang sejumlah itu, karena kabar dari dealer dan lembaga pembiayaan menyangkut asuransinya tidak kunjung datang.   Akhirnya si A dengan bersusah payah mendapatkan uang sejumlah Rp. 500.000,- untuk ongkos jalan para petugas polsek mengambil sepeda motor berikut menangkap pelakunya.    Sampai di rumah, si A menghitung-hitung uang yang selama ini telah dikeluarkan dalam rangka mengurusi sepeda motornya yang hilang.  Total yang dikeluarkan untuk “biaya” di polsek ternyata Rp. 700.000,- (tujuh ratus ribu rupiah), sama dengan biaya DP sepeda motornya 2 bulan yang lalu, dan ternyata si A belum menghitung ongkos “kesana-kemari” selama mengurusi sepeda motornya, paling tidak untuk ongkos naik angkot sekitar Rp. 50.000,- (limapuluh ribu rupiah).   Jadi total keseluruhannya adalah Rp. 750.000,- (tujuh ratus limapuluh ribu rupiah).  Jumlah yang lumayan besar bagi seorang tukang ojek seperti si A.
Ilustrasi yang disampaikan di atas bukan hanya sekedar cerita belaka, tapi hal ini mungkin nyata terjadi pada kita, anda maupun saudara dan orang-orang di sekeliling kita.   Yang menjadi persoalan adalah mengapa hal itu bisa terjadi sehingga pameo “melapor hilang kambing malah hilang sapi” itu sampai sekarang masih relevan?  Walaupun sebenarnya  ilustrasi di atas bukan melapor hilang kambing malah hilang sapi, tetapi “melapor hilang 1 kambing malah hilang lagi 1 kambing tambah seekor ayam”.
Apa yang dilakukan oleh X10 yang meminta “ongkos ngetik”, dan X7 yang meminta “biaya pengurusan asuransi” kepada si A jelas tidak masuk akal serta mengada-ada!   Anggaran tiap bulan untuk keperluan ATK setiap kantor kepolisian sudah ada dan bisa digunakan dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.   Tinggal “perilaku” dari masing-masing anggota saja yang harus mendapat pengawasan lebih dari atasannya.  Namun bagaimana dengan “ongkos jalan” yang diminta oleh X7  kepada si A untuk menangkap pelaku dan sekaligus mengambil sepeda motor di wilayah Kabupaten lain yang memang benar-benar membutuhkan biaya?    Adakah biaya dari dinas untuk itu?  Ada!  tetapi berapa jumlahnya? dan untuk berapa kasus setiap tahunnya?  apakah kasus curanmornya si A mendapatkan jatah dari anggaran dinas itu?
Ternyata, setelah Kapolsek X1 menganalisa, hasilnya seperti ini :   Kejadian atau kasus yang dilaporkan pada Polsek X  per bulan rata-rata 20 (duapuluh) kasus, sehingga rata-rata per tahun adalah 240 (duaratus empat puluh) kasus.  Sedangkan dinas (negara) hanya memberikan biaya untuk penyelesaian kasus sebanyak 4 kasus tiap bulan, itupun dibagi berdasar kriteria kasus ( berat, sedang, dan ringan ).   Jadi bersyukur bagi masyarakat (korban) yang kasusnya termasuk dalam kategori 4 kasus  tiap bulan yang “dibiayai negara” tersebut sehingga “mungkin” tidak perlu mengeluarkan biaya di kepolisian untuk mengurusi kasusnya.  Bagaimana dengan kasus si A?    Ternyata si A termasuk masyarakat (korban) yang  kurang beruntung, karena kasusnya masuk pada kategori  16 kasus yang “tidak dibiayai negara“.  Hasil analisa Kapolsek X1  telah menjawab pameo itu, dan selanjutnya Kapolsek X1 membayangkan suatu impian untuk melayani masyarakat dengan sebaik-baiknya dan menghapus pameo itu.
Impian Kapolsek X1 :
Indah sekali jika membandingkan dan memimpikan seperti “institusi samping” sesama penegak hukum, yang biaya dari negara untuk tugas penyelidikan dan penyidikannya “UNLIMITED“, pastilah tidak akan ada lagi istilah “ongkos ketik”, “ongkos jalan” apalagi pameo melapor hilang kambing malah hilang sapi”, akan lenyap dari bumi ini!
Salah siapa semua ini?   Tidak perlu mencari kambing hitam dalam “hilang kambing malah hilang sapi ini”, siapa yang salah atau yang harus bertanggung jawab.  Yang terpenting untuk saat ini, kita semua perlu memahami demikian kondisi kepolisian kita, sehingga dengan memahaminya tentu kita harus mencari solusi terbaik demi pelayanan prima kepada masyarakat yang selalu digembar-gemborkan oleh institusi ini!  Bravo kepolisian kita!
Demikian dan terimakasih.
Posted in Community Policing, Penegakan Hukum, Pidana Umum | Tagged , , , , , , , , , , , , , | 1 Comment

Saatnya menghapus “simbol-simbol arogansi” di Kepolisian

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, yang disebut arogan itu adalah orang yang punya perasaan superioritas dan itu dimanifestasikan ke dalam sikap yang suka memaksa,  kepongahan, kecongkakan, atau keangkuhan. Dalam praktek sehari-hari, arogansi itu kita masukkan ke dalam list kesombongan. Semua naluri universal manusia di dunia ini tidak ada yang bisa menerima kesombongan. Manusia diberi naluri yang membenci kearogansian dan menyukai kerendahan hati. Karena itu, orang yang paling arogan sekali pun akan menolak kearogansian yang ditunjukkan orang lain. (Ubaydillah : 2007)

Sementara itu, Simbol berasal dari kata symballo yang berasal dari bahasa Yunani. Symballo artinya ”melempar bersama-sama”, melempar atau meletakkan bersama-sama dalam satu ide atau konsep objek yang kelihatan, sehingga objek tersebut mewakili gagasan. Simbol dapat menghantarkan seseorang ke dalam gagasan atau konsep masa depan maupun masa lalu. Simbol adalah gambar, bentuk, atau benda yang mewakili suatu gagasan, benda, ataupun jumlah sesuatu. Meskipun simbol bukanlah nilai itu sendiri, namun simbol sangatlah dibutuhkan untuk kepentingan penghayatan akan nilai-nilai yang diwakilinya. Simbol dapat digunakan untuk keperluan apa saja. Semisal ilmu pengetahuan, kehidupan sosial, juga keagamaan. Bentuk simbol tak hanya berupa benda kasat mata, namun juga melalui gerakan dan ucapan. Simbol juga dijadikan sebagai salah satu infrastruktur bahasa, yang dikenal dengan bahasa simbol. (id.wikipedia.org)

Dari pengertian arogan dan simbol di atas, maka dapat dirangkaikan pengertian dari simbol-simbol arogansi; yaitu bentuk-bentuk baik yang berupa benda kasat mata maupun bukan kasat mata (mis: bahasa, ucapan) yang mewakili suatu gagasan tentang sesuatu hal yang kemudian mengarah ke sifat-sifat kesombongan, keangkuhan dan kecongkaan.  Dari hal tersebut maka yang menjadi pertanyaan kita adalah, apa yang menjadi simbol-simbol arogansi di Kepolisian? Kemudian mengapa simbol-simbol tersebut menjadi sesuatu hal yang dapat dikatakan arogansi?

Dalam hal ini akan dibahas beberapa diantara simbol-simbol tersebut sehingga kemudian juga akan dapat menjawab kedua pertanyaan  di atas, yaitu antara lain :

1) Sebutan Kepangkatan dan Bentuk Pangkat ;

Sebutan kepangkatan di Kepolisian pada Perwira Tinggi (Pati) yang menggunakan kata “Jenderal” dengan bentuk pangkat yang sedemikian rupa berisi “Bintang”. Sebutan pangkat di Kepolisian sebenarnya dari tingkat paling bawah (Bhayangkara Dua) sampai tingkat Perwira Menengah (Komisaris Polisi) sebenarnya sudah cukup baik (sedikit banyak telah menghilangkan kesan arogan), namun permasalahannya adalah pada pangkat “Jenderal” yang masih terkesan sangat militeristik (di Negara manapun pangkat Jenderal biasa digunakan dalam militernya).   Kepolisian sudah lebih 1 (satu) dasawarsa menjadi “Polisi Sipil” tetapi mengapa pangkat militer mesti dipertahankan? Sebagian orang beranggapan bahwa kepangkatan Jenderal itu tidak bisa melulu dinilai sebagai sesuatu yang bernuansa militeristik, sebab militeristik adalah paham militerisme yang berbeda dari sipil. Namun menurut saya, karena historisnya Polisi yang pernah bergabung dengan Militer maka tetap saja  sebutan kepangkatan Jenderal itu akan membawa pengaruh yang sangat kuat dalam merubah paradigma menjadi polisi sipil. Jika dibalik pertanyaannya, bagaimana akan merubah paradigma polisi yang dulu militer menjadi sipil jika sebutan pangkatnya masih militer? Menganalogikannya dalam suatu kasus adalah sebagai berikut ; seorang penyidik di suatu kepolisan daerah dengan pangkat Inspektur yang sedang menangani suatu kasus Pengusaha A, tiba-tiba mendapat telepon dari seorang “Jenderal” di Markas Besar, yang meminta tolong agar dapat “membantu” penyelesaian kasus kawannya si Pengusaha A.   Sebagai seorang “Inspektur” menerima telepon dari seorang “Jenderal” saja tentu sudah menjadi “beban” tersendiri, apalagi jika tidak melakukan apa yang diminta oleh “Jenderal” tersebut, yang jika dihitung-hitung maka pangkat itu paling tidak berada pada posisi 6 tingkat di atasnya.   Bagaimana si Inspektur kemudian tidak memenuhi permintaan sang Jenderal? Dari analogi tersebut dapat menepis pernyataan yang menyebutkan bahwa kepangkatan Jenderal tidak melulu dinilai sebagai sesuatu yang bernuansa militeristik.    Sedangkan bentuk pangkat Polisi yang sekarang inipun juga masih mensimbolkan aroganisme, dengan “bintang” untuk jenderal, “bunga” untuk perwira menengah, dan “balok” untuk  pangkat inspektur.    Jujur saja, sebagai anggota  kepolisian level inspektur saja saya akan merasa canggung, sungkan, takut, minder, bilamana berhadapan dengan orang berpakaian dinas dengan pangkat “bintang berkilau” di pundak, apalagi masyarakat pada umumnya.

2) Tongkat Komando

Di kepolisian, tongkat komando diberikan dan diperuntukkan kepada para pejabat yang memimpin/mengepalai sebuah kesatuan, seperti Resor atau Detasemen ke atas (Kepolisian Daerah dan Markas Besar).  Dari sejarahnya, tongkat komando merupakan identitas militer yang menjadikannya sebagai simbol kekuasaan, simbol kedudukan, simbol perintah dan sebagainya.  Dengan tongkatnya, seorang komandan kesatuan biasanya menunjukkan dan memberi suatu perintah kepada anak buahnya.  Tongkat komando juga kemudian menjadi simbol sahnya pemegang suatu jabatan, seorang komandan yang menduduki jabatan “komando” (Kepala) tetapi tidak diserah-terimakan tongkat komandonya dari pejabat lama dianggap belum sah. (Terjadi pada peristiwa pergantian Kepala Kepolisian masa lalu).  Sedemikian “sakral” nya tongkat komando hingga ada saja yang kemudian para “pemegang” tongkat komando itu membuat sendiri (memesan) dengan berbagai macam bahan, seperti dari kayu cendana bahkan gading gajah.  Ada juga yang melapisi bagian pegangan dan ujung tongkat dengan emas murni (24 karat).   Dari berbagai referensi tentang kegunaan tongkat komando di militer adalah sebagai salah satu senjata  terakhir bagi perwira komando (karena pada awalnya tongkat tersebut bisa dicabut dan difungsikan sebagai pisau/belati yang ada didalamnya). Sementara itu di kepolisian apalagi saat ini, kegunaan tongkat komando hanyalah sebatas simbol serah terima jabatan komando saja.  Sehingga untuk saat ini apakah masih relevan bila tetap digunakan di lingkungan Kepolisian yang sipil ini, selain hanya sebagai pembeda antara pejabat komando (Kepala) dengan yang bukan?  Disadari atau tidak bagi pemegang tongkat komando, hal ini akan membawa kepada pemikiran dan sikap bahwa dirinya (si pemegang tongkat komando) adalah salah satu “orang terpilih” karena tidak semua perwira (orang) dapat memegang tongkat komanado (jabatan).  Dari pemikiran dan sikap yang demikian, sedikit banyak akan menimbulkan sifat sombong, angkuh,congkak dan pongah pada diri si pemegang tongkat komando itu.

3) Sebutan “Komandan”, “Dan” atau “Ndan”

Satu lagi warisan militer yang juga menjadi simbol-simbol arogansi adalah penyebutan Komandan kepada para Perwira atau Polisi yang lebih senior. Kebiasan penyebutan ini masih saja terus berlangsung di Kepolisan, hal ini karena  fakta di lapangan masih banyak Polisi-polisi produk militer (pendidikan masih tergabung dengan militer) baik sebagai anak buah maupun pimpinan yang masih terbiasa penyebutan kata tersebut.  Hal inipun kemudian disadari atau tidak bagi mereka yang disebut ‘Komandan” akan merasa dirinya berbeda (posisi lebih di atas) dengan yang memanggilnya demikian, bahwa yang memanggilnya dengan “komandan”, “Ndan” maupun “Dan”  adalah mereka yang berada “di bawahnya”.  Hal ini juga sedikit banyak membawa pengaruh sikap “sok komandan” bagi mereka yang biasa dipanggil “komandan”.

Dari beberapa simbol-simbol arogansi yang masih ada di Kepolisian tersebut, kiranya perlu dipikirkan wacana ke depan dalam menghadapi perilaku masyarakat yang semakin kritis, sebagaimana tuntutan reformasi Kepolisian yaitu mewujudkan Polisi yang sipil dan humanis, maka sebaiknya simbol-simbol tersebut kita hapuskan.  Bagaimana caranya?  Itu yang harus menjadi pemikiran bersama, karena hal tersebut juga syarat dengan kebijakan-kebijakan yang bersifat politis.  Namun bila ingin mewujudkan cita-cita kepolisian yang sipil dan humanis, maka diperlukan kearifan dari para pimpinan Kepolisian untuk merelakan simbol-simbol itu dihapuskan.

Posted in Community Policing | Tagged , , , , , , , , , , | 4 Comments

SWIFT Code Bank di Indonesia


by Marketiva.

SWIFT Code Bank di Indonesia.

Untuk deposit atau withdrawal menggunakan metoda Wire Transfer (atau dikenal juga dengan Telegraphic Transfer), anda memerlukan kode SWIFT (Society for World-wide Interbank Financial Telecommunications) yaitu kode unik berupa HURUF KAPITAL sebanyak delapan buah (ada juga yang menuliskan dengan 11 huruf KAPITAL, dimana tiga huruf terakhir berupa huruf XXX), yang dimiliki setiap bank untuk keperluan transfer uang dari dan ke luar negeri. Setiap bank memiliki SWIFT Code sendiri, dan tidak ada yang sama antara satu bank dengan yang lain. Untuk mengirim uang ke wilayah Eropa, seringkali juga digunakan kode IBAN (International Bank Account Number) atau juga gabungan dari IBAN dan SWIFT.

Keterangan lebih lanjut mengenai SWIFT code bisa anda dapatkan di wikipedia, untuk kode IBAN bisa juga anda dapatkan di wikipedia.

Untuk mengetahui kode SWIFT, anda bisa menanyakan langsung ke bank anda, atau bisa anda cari di:
http://www.swift.com/bsl/freequery.do, berikut beberapa nama bank beserta SWIFT code nya.

  1. ABN AMRO Bank: ABNAIDJA
  2. Hagabank: HAGAIDJA
  3. Bank Artha Graha: ARTGIDJA
  4. Bank Bumiputera Indonesia: BUMIIDJA
  5. Bank Bumi Arta Indonesia: BBAIIDJA
  6. Bank Buana Indonesia: BBIJIDJA
  7. Bank Danamon: BDINIDJA
  8. Bank Mandiri (not Bank Syariah Mandiri): BEIIIDJA
  9. Bangkok Bank: BKKBIDJA
  10. Bank Niaga: BNIAIDJA
  11. Bank Negara Indonesia (BNI): BNINIDJA
  12. Bank BNP Paribas Indonesia: BNPAIDJA
  13. Bank Resona Perdania: BPIAIDJA
  14. Bank Rakyat Indonesia (BRI): BRINIDJA
  15. Bank Bukopin: BBUKIDJA
  16. Bank Central Asia (BCA): CENAIDJA
  17. Deutsche Bank AG: DEUTIDJA
  18. Bank Mizuho Indonesia: MHCCIDJA
  19. Hongkong and Shanghai Banking (HSBC): HSBCIDJA
  20. Bank Internasional Indonesia (BII): IBBKIDJA
  21. Bank Indonesia: INDOIDJA
  22. Lippobank: LIPBIDJA
  23. Bank NISP: NISPIDJA
  24. Pan Indonesia Bank: PINBIDJA
  25. Bank Rabobank International Indonesia: RABOIDJA
  26. Bank UFJ Indonesia (formerly Bank Sanwa Indonesia): SAINIDJA
  27. Bank Swadesi: SWBAIDJA
  28. Bank Tabungan Negara (BTN): BTANIDJA
  29. Bank UOB Indonesia: UOBBIDJA
  30. Bank Permata: BBBAIDJA
  31. Bank Maybank Indocorp: MBBEIDJA
  32. Bank Chinatrust Indonesia: CTCBIDJA
  33. Woori Bank Indonesia: HVBKIDJA
  34. Bank Sumitomo Mitsui Indonesia: SUNIIDJA
  35. Bank Finconesia: FINBIDJA
  36. Bank OCBC Indonesia: OCBCIDJA
  37. Bank Kesawan: AWANIDJA
  38. Bank Commonwealth: BICNIDJA
  39. Bank Ekonomi Raharja: EKONIDJA
  40. Bank DBS Indonesia: DBSBIDJA
  41. Bank CIC International (formerly Bank Century Intervest Corp): CICTIDJA
  42. Bank Ekspor Indonesia: BEXIIDJA
  43. Bank Mega: MEGAIDJA
  44. Bank of China, Jakarta Branch: BKCHIDJA
  45. Bank Syariah Mandiri (bukan Bank Mandiri): BSMDIDJA

Catatan: data mungkin bisa berubah setiap saat, silakan tanyakan ke bank anda langsung atau cari di:
http://www.swift.com/bsl/freequery.do untuk kebenaran SWIFT code tersebut.

…………………………
Dua cara menghasilkan uang gratis dari internet bersama Marketiva.com:

  1. Buka account, maka anda mendapatkan uang tunai $5, tradingkan sampai untung, maka keuntungan bisa anda tarik.
  2. Buka account, trading di desk virtual (uang mainan), apabila anda menjadi juara bulanan atau tahunan maka anda akan mendapat hadiah uang betulan sebesar $30 untuk master of the month, dan $500 untuk master of the year.

Anda tidak perlu memilih, kedua cara diatas bisa anda jalankan bersamaan untuk menghasilkan uang dari internet. Silakan buka account DiSiNi, dan lengkapi identifikasi dengan cara upload KTP atau Passport atau SIM anda agar nanti hadiahnya bisa anda tarik ke rekening bank atau ecurrency milik anda.

Posted in Serba-serbi | Tagged , , , , , , , , , , | 2 Comments

Liputan6 :: Pentas Bola Dunia – Aktual Tajam dan Terpercaya

Liputan6.com, Burnley: Hanya semusim kiprah Burnley di kompetisi premiership. Tim yang meraih tiket promosi lewat babak play-off di musim lalu itu harus puas kembali ke divisi championship. Kekalahan telak empat gol tanpa balas saat menjamu Liverpool di Turf Moor, Minggu (25/4) membuat The Clarets dipastikan terdegradasi.

Pasalnya, dengan jumlah 27 poin hasil dari 36 pertandingan membuat Burnley dalam dua partai tersisa mustahil menyamai atau melampaui pundi-pundi nilai yang dikumpulkan West Ham United (34 poin) dan Wigan Athletic plus Wolverhampton Wanderers yang sama-sama meraih 35 angka.

Sebaliknya, kemenangan telak ini membuat peluang The Reds untuk bersaing memperebutkan posisi empat besar di akhir musim alias tiket terakhir berkecimpung di Liga Champions musim depan tetap terjaga. Dengan mengoleksi 62 poin dari 36 partai, Liverpool tetap menempati peringkat ketujuh dengan selisih dua angka dari Tottenham Hotspur yang baru menyelesaikan 35 laga.

Setelah sempat dibuat frustasi oleh kegigihan anak-anak asuhan Brian Laws di babak pertama, Liverpool akhirnya bisa leluasa dan lebih nyaman bertanding di paruh 45 menit kedua setelah kapten tim Steven Gerrard mencetak dua gol dalam interval waktu tujuh menit, masing-masing di menit ke-52 dan menit ke-59. Gol Maxi Rodriguez di menit ke-74 dan Ryan Babel di injury time menggenapkan keunggulan tim tamu.

Sementara itu, dalam waktu yang bersamaan, Everton membalikkan keadaan dan akhirnya unggul tipis 2-1 (0-1) saat menjamu Fulham di Goodison Park. Hasil ini tak membuat posisi The Toffees berubah, tetap berada di peringkat kedelapan dengan jumlah 57 poin. The Cottagers sendiri tetap tertahan di peringkat ke-12 dengan jumlah 43 angka.

Di laga ini, bos Fulham, Roy Hodgson tampak lebih memusatkan perhatiannya pada leg semifinal UEFA Europa League menjamu Hamburg, Kamis (29/4), dengan menurunkan tim kelas duanya. Meski demikian, Fulham sempat mengejutkan dengan unggul lebih dulu lewat gol Erik Nevland memanfaatkan blunder back-pass Leighton Baines. Di babak kedua, Everton bangkit dan mencetak dua gol balasan lewat gol bunuh diri Chris Smailing di menit ke-50 dan tendangan penalti Mikel Arteta di penghujung pertandingan.(MEG)

Sumber : Liputan6.com

Posted in Olah Raga | Tagged , , , , , | Leave a comment